Beruang Kecil menatap ke cermin. Melihat dirinya dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Sambil merenungi diri sendiri. Karena ia merasa dirinya kini jauh lebih buruk dari sebelumnya. Seakan dirinya begitu mudah dan merasa tak bersalah saat melakukan kejahatan. Walau setelah semua terjadi, penyesalan menghampiri. Tapi tetap saja keburukan itu sudah banyak melukai dan merugikan.
Terkadang keadaan membuat semua orang bisa berubah. Karena pengaruh yang mencampurkan adukkan emosi, perasaan dan pikiran. Membuat otak tak mampu membedakan lagi yang baik dan buruk. Namun tetap saja penyesalan yang datang terlambat itu menyaadarkan diri yang berdosa ini.
Beruang Kecil terus menatap bayangan dirinya yang terpantul dicermin. Kemudian tertunduk seakan malu melihat dirinya sendiri. Dan tiba-tiba suara yang mengejutkan terdengar entah dari mana.
"Tetaplah jadi dirimu sendiri. Beruang Kecil yang baik hati dan selalu tersenyum. Jangan biarkan apapun mengubah dirimu. Apalagi hanya sebuah keadaan. Karena keadaan tidak bisa memaksamu untuk berubah. Gunakan akal sehatmu. Kau punya pilihan. Maka pilihlah yang terbaik. Jangan rusak dirimu dengan keburukan" Nasehat suara itu.
"Siapa kamu? kenapa aku hanya bisa mendegar suaramu tapi tak melihat wujudmu. Jangan-jangan kamu ...??? tanya Beruang Kecil takut.
"Aku adalah suara hatimu. Yang akan selalu memberikan nasehat untuk membantumu memilih yang apapun yang benar. Jadi, tidak perlu takut. Karena aku ada dalam dirimu. Di hatimu" Jelas suara hati.
"Terima kasih suara hatiku. Aku benar-benar merasa malu dan bersalah bila mengingat semua kesalahan yang telah aku lakukan selam ini. Rasanya, aku merasa lebih buruk dari siapapun" Beruang Kecil berujar sendu.
"Tenanglah Beruang Kecil, jangan terus-terusan menyalahkan dirimu. Jika kau bersalah, maka jangan pernah mengulanginya lagi. Jangan biarkan keadaan atau apapun dan siapapun mengubah dan mengusai dirimu sehingga kau menjadi jahat. Dan selalu berpikir dalam setiap tindakan. Jangan sampai emosi mengusai dan membakar dirimu. Berdoalah selalu" Nasehat suara hati lagi.
"Ya, kau benar suara hati. Aku terlalu mudah tenggelam dalam lautan emosi yang begitu dalam. Sehingga aku tak mampu muncul kepermukaan" Beruang Kecil menunduk sedih.
"Sudahlah Beruang Kecil. Yang lalu biarlah berlalu dan jadikan pelajaran untuk diambil hikmahnya. Ingatlah, ada aku suara hati mu yang akan selalu mengingatkan mu. Hanya kadang aku tak terdengar oleh mu, saat nafsu dan emosi lebih merajai dirimu. Karena itu, aku pesankan pada mu, Cobalah sedikit lebih tenang, agar aku bisa kau dengar" Tambah suara hati.
"Terima kasih, suara hatiku" Beruang Kecil menatap ke cermin dan tersenyum kembali penuh semangat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar